30-09-2009 17:16, Sumatra Barat diguncang gempa berkekuatan 7,6 SR. Gempa yg berpusat di barat daya Pariaman itu udah menghancurkan ribuan gedung & rumah, menimbulkan ratusan korban jiwa, ribuan korban luka, sementara ratusan lagi masih hilang. Sejak kejadian sampai sekarang bantuan terus mengalir ke sana, meskipun distribusinya masih kacau sampai ada penjarahan segala. Pencarian & evakuasi korban juga terus jalan. Tiap hari data jumlah korban selalu bertambah.
Sejak kejadian sampai sekarang juga kita yg tinggal jauh dari tempat kejadian disuguhi berita-berita gempa di berbagai media. Wajar kalau kita ingin tau, secara ini musibah yg besar, dan sebagai sesama orang Indonesia kita juga punya rasa keterikatan, simpata sama para korban.
Sayangnya belakangaa pemberitaan di media tampaknya udah sangat berlebihan, terutama di televisi. Bukan rahasia lagi kalau televisi adalah media yg paling bersaing satu sama lain. Maka dlm hal pemberitaan pun bersaing buat menyajikan yg terdepan & terbaik. Gak heran dlm pemberitaan gempa ini banyak yg dikasih embel-embel “Exclusive” atau “Kami yg pertama”. But the truth is, we don’t care! Saya sebagai penonton gak peduli juga itu media mau yg pertama atau terakhir, yg penting kan konten berita. Seberapa akurat informasi yg mereka sampaikan dan pastinya harus bermanfaat buat penonton juga para korbannya.
Hal lain yg mengganggu, entah karena buru-buru takut keduluan sama stasiun tv lain atau karena ingin menggambarkan efek bencana yg dahsyat, banyak stasiun tv yg menyiarkan gambar-gambar sadis. Jenazah-jenazah menumpuk atau berserakkan di jalan, tanpa di-blur. Parah! Padahal apa susahnya sih di-edit dikit gambar dibikin samar. Atau kalau ingin menggambarkan besarnya efek gempa cukuplah tayangin gambar bangunan-bangunan yg rusak.
Maka nonton berita gempa akhir-akhir ini rasanya udah seperti nonton reality show. Sama-sama bikin muak saking berlebihannya. Kita peduli sama para korban, kita juga ingin tau kondisi mereka, tapi janganlah penderitaan mereka malah dieksploitasi cuma demi gengsi & rating tinggi. Ingat elemen ke-9 dlm 9 Elemen Jurnalisme Bill Kovach: “Wartawan bertanggungjawab terhadap nurani”. Artinya wartawan & para awak media mesti mendengarkan hati nurani mereka dlm mencari, mengolah, dan menyampaikan berita. Etis ngga berita yg mereka bikin?
Tapi masalahnya memang susah juga kalau udah berhubungan sama petinggi media & urusannya sama komersialisme. Yang saya tau, di internet udah banyak yg protes tentang pemberitaan gempa ini. Bahkan para wartawan sendiri pun ada yg kurang setuju, pada teriak-teriak di Twitter. Tapi mereka gak bisa apa-apa juga karena itu suruhan atasan. Sekarang mestinya orang-orang media nanya sama diri sendiri, kalau mereka yg kena gempa & jadi korban, mau gak dieksploitasi demi keuntungan orang lain?
Oh ya satu lagi, kenapa sih kalau wawancara korban gempa para wartawan itu seneng sekali nanya: “Bagaimana perasaan Anda?” Pertanyaan bodoh. Itu orang udah kena gempa, badannya mungkin luka, rumahnya rusak, hartanya habis, keluarganya meninggal, terus ditanya gimana perasaannya. Menurut loooooooo?????
Labels: current affair, just a thought








