Monday, October 05, 2009

Tentang (Berita) Gempa

30-09-2009 17:16, Sumatra Barat diguncang gempa berkekuatan 7,6 SR. Gempa yg berpusat di barat daya Pariaman itu udah menghancurkan ribuan gedung & rumah, menimbulkan ratusan korban jiwa, ribuan korban luka, sementara ratusan lagi masih hilang. Sejak kejadian sampai sekarang bantuan terus mengalir ke sana, meskipun distribusinya masih kacau sampai ada penjarahan segala. Pencarian & evakuasi korban juga terus jalan. Tiap hari data jumlah korban selalu bertambah.

Sejak kejadian sampai sekarang juga kita yg tinggal jauh dari tempat kejadian disuguhi berita-berita gempa di berbagai media. Wajar kalau kita ingin tau, secara ini musibah yg besar, dan sebagai sesama orang Indonesia kita juga punya rasa keterikatan, simpata sama para korban.

Sayangnya belakangaa pemberitaan di media tampaknya udah sangat berlebihan, terutama di televisi. Bukan rahasia lagi kalau televisi adalah media yg paling bersaing satu sama lain. Maka dlm hal pemberitaan pun bersaing buat menyajikan yg terdepan & terbaik. Gak heran dlm pemberitaan gempa ini banyak yg dikasih embel-embel “Exclusive” atau “Kami yg pertama”. But the truth is, we don’t care! Saya sebagai penonton gak peduli juga itu media mau yg pertama atau terakhir, yg penting kan konten berita. Seberapa akurat informasi yg mereka sampaikan dan pastinya harus bermanfaat buat penonton juga para korbannya.

Hal lain yg mengganggu, entah karena buru-buru takut keduluan sama stasiun tv lain atau karena ingin menggambarkan efek bencana yg dahsyat, banyak stasiun tv yg menyiarkan gambar-gambar sadis. Jenazah-jenazah menumpuk atau berserakkan di jalan, tanpa di-blur. Parah! Padahal apa susahnya sih di-edit dikit gambar dibikin samar. Atau kalau ingin menggambarkan besarnya efek gempa cukuplah tayangin gambar bangunan-bangunan yg rusak.

Maka nonton berita gempa akhir-akhir ini rasanya udah seperti nonton reality show. Sama-sama bikin muak saking berlebihannya. Kita peduli sama para korban, kita juga ingin tau kondisi mereka, tapi janganlah penderitaan mereka malah dieksploitasi cuma demi gengsi & rating tinggi. Ingat elemen ke-9 dlm 9 Elemen Jurnalisme Bill Kovach: “Wartawan bertanggungjawab terhadap nurani”. Artinya wartawan & para awak media mesti mendengarkan hati nurani mereka dlm mencari, mengolah, dan menyampaikan berita. Etis ngga berita yg mereka bikin?

Tapi masalahnya memang susah juga kalau udah berhubungan sama petinggi media & urusannya sama komersialisme. Yang saya tau, di internet udah banyak yg protes tentang pemberitaan gempa ini. Bahkan para wartawan sendiri pun ada yg kurang setuju, pada teriak-teriak di Twitter. Tapi mereka gak bisa apa-apa juga karena itu suruhan atasan. Sekarang mestinya orang-orang media nanya sama diri sendiri, kalau mereka yg kena gempa & jadi korban, mau gak dieksploitasi demi keuntungan orang lain?

Oh ya satu lagi, kenapa sih kalau wawancara korban gempa para wartawan itu seneng sekali nanya: “Bagaimana perasaan Anda?” Pertanyaan bodoh. Itu orang udah kena gempa, badannya mungkin luka, rumahnya rusak, hartanya habis, keluarganya meninggal, terus ditanya gimana perasaannya. Menurut loooooooo?????

Labels: ,

popsicle @ 9:24 AM | 0 comments
------------

Sunday, September 20, 2009

Selamat


Selamat Idul Fitri 1430H
Mohon maaf lahir & batin

Labels:

popsicle @ 12:33 AM | 0 comments
------------

Wednesday, September 02, 2009

Gempa goyang goyang...

Hot issue hari ini: Gempa! Heboh banget gempa kali ini, soalnya kerasa merata di Jawa Barat & Jakarta, bahkan sampai ke Jawa bagian timur.

Di mana kalian saat terjadi gempa tadi? Saya sih lagi di rumah. Di lantai atas, bagian belakang. Tadi ceritanya mau bersihin akuarium. Ke luar nyari spons & selang. Nyari-nyari gitu ternyata ada di atas. Saat itulah tiba-tiba ada suara berderak-derak yg asalnya dari atap plastik. Karena suaranya cukup keras saya langsung nengok ke situ. Biasanya karena kucing yg jalan-jalan di situ, tapi ternyata gak ada kucing. Kepikiran mungkin karena ada angin. Tapi sedetik kemudian lantai berasa goyang-goyang. Whaa mulai panik! Habis itu langsung turun sambil teriak "Goyang goyang!!!" (Iya teriaknya malah "Goyang" bukan "Gempa") biggrin

Di bawah ada Mamah & Apa, langsung disuruh keluar. Nuntun Mamah ke garasi sementara Apa masuk kamar ngegotong Rafif yg lagi tidur. Tetangga & para tukang bangunan di rumah depan juga pada keluar.


Sekian detik guncangan berhenti langsung lari lagi ke kamar ngambil HP. Nelpon ke rumah Teteh karena di sana ana Raiqa sama pengasuhnya. Gak diangkat-angkat, akhirnya disusulin Apa (yg untungnya mereka gak apa-apa, udah keluar rumah dan Ade Rai dibantu digendong sama tetangganya)

Takut ada gempa susulan akhirnya kami nungguin di garasi & teras. Saya langsung update status Facebook & Twitter! Hahahhaha....penting cin biar eksis. Dan ternyata bukan saya doang dong, dlm hitungan sekejap setelah gempa semua status di Facebook & Twitter tentang gempa (belakangan baru tau berbagai topik yg berhubungan dgn gempa jadi trending topics di Twitter) Luar biasa!!! Ternyata gempang berguncang juga di dunia maya. Di tengah-tengah kepanikan masih pada sempet ya online. Orang-orang Indonesia hebat banget deh lol

Tapi itu lumayan membantu, karena di kompleks rumah setelah gempa listrik terus mati. Lewat Twitter jadi tau tentang gempa itu. Pusatnya di mana, kekuatannya berapa. Karena ternyata pusatnya di Tasikmalaya, si Mamah langsung nelpon sodara di sana, tapi gak nyambung-nyambung. Setelah beberapa menit baru deh berani masuk lagi ke rumah.

Alhamdulillah semua keluarga, temen-temen, rumah, dan keadaan sekitar baik-baik aja. Meskipun katanya dinding mesjid ada yg retak-retak. Turut berduka buat yg gak seberuntung kami. Semoga musibah di bulan Ramadhan ini ada hikmahnya.

Labels: ,

popsicle @ 5:36 PM | 0 comments
------------

Friday, August 14, 2009

Nina Bobo

Nina bobo,
oh nina bobo,
kalau tidak bobo,
digigit nyamuk.

Adakah yg bisa menjelaskan hubungan antara tidak bobo dengan digigit nyamuk? Karena kenyataannya kalopun sudah bobo juga masih suka digigit nyamuk.

Labels:

popsicle @ 12:34 PM | 2 comments
------------


Gia quote

"Life and death, energy and peace. If I stop today it was still worth it. Even the terrible mistakes that I made and would have unmade if I could. The pains that have burned me and scarred my soul, it was worth it, for having been allowed to walk where I've walked, which was to hell on earth, heaven on earth, back again, into, under, far in between, through it, in it, and above."
(Gia Carangi from Gia)

Labels:

popsicle @ 10:34 AM | 0 comments
------------