Monday, March 30, 2009

Tentang memberi

Beberapa tahun terakhir, di tv banyak banget acara reality show. Katanya loh reality show, padahal kenyataannya diatur juga (dgn akting para pelakunya yg amat sangat kaku) :D Salah satu tema reality show yg paling laku dijual yaitu tentang penderitaan, kesusahan hidup seseorang atau satu keluarga.

Nah ada nih satu acara di sebuah stasiun tv. Sebut saja inisial acaranya J.I.K.A.A.K.U.M.E.N.J.A.D.I. (eh itu bkn inisial ya?)
:Di acara itu seorang pemirsa yg terpilih selama beberapa hari bakal tinggal bareng bersama sebuah keluarga yg hidupnya susah. Gak cuma tinggal bareng, dia juga bakal menjalani kehidupan layaknya keluarga tersebut. Kerja keras, makan seadanya, dll. Di akhir acara biasanya dia bakal memberikan sesuatu (atas nama acara & stasiun tv) kpd keluarga tersebut.

Bantuan yg diberikan kpd keluarga miskin tersebut biasanya macam-macam, bisa berupa benda, tempat usaha, dsb. Itu sebenernya yg mau saya bahas dari tadi. Sbg penonton, sekilas mungkin kita melihat bahwa bantuan yg diberikan cukup berguna buat keluarga tersebut. Warung, pemasangan listrik, bangunan usaha. Tapi kadang bertanya-tanya juga, bener gak sih bahwa bantuan itu yg mereka BUTUHKAN? Bukan sekedar mereka inginkan loh ya


Saya ingat di salah satu episode, bantuan yg diberikan berupa pemasangan aliran listrik di rumah keluarga yg ditumpangi, dgn harapan kehidupan keluarga itu bakal lebih baik. Bisa pasang lampu & peralatan lain. OK bagus...tapi yg langsung saya pikirkan, "Terus nanti bayar listriknya gimana?" secara itu keluarga buat makan sehari-hari aja susah ya, gimana buat bayar listrik yg paling ngga butuh beberapa puluh ribu sebulan?


Dan pertanyaan saya makin menjadi setelah mendengar cerita minggu lalu. Jadi di salah satu episode pernah diceritakan seorang pemirsa menjalani kehidupan bersama keluarga tukang kuda. Maksudnya yg suka menyewakan kuda buat rekreasi gitu. Kebetulan lokasinya di Bandung, di daerah Citarum situ, dan kebetulan kenal sama tukang kudanya. Langganan dari jaman kecil dulu dgn kudanya yg bernama Si Manis
:-* Nah di akhir acara, Mang Undang (nama tukang kudanya) dikasih delman karena katanya itu yg si mang kuda inginkan sejak lama.

Sampai akhirnya minggu lalu...Rafif bersama bunda & akinya jalan-jalan ke daerah Citarum. Mereka ketemu sama Mang Undang yg ternyata masih setia menyewakan kudanya. Sama bapak saya ditanya, katanya dikasih delman kok gak dipakai? Kata si Mang, itu delman masih ada, disimpan di rumahnya di daerah Dago atas. Gak dipakai karena jalan ke rumahnya itu nanjak banget dan dia kasian sama kudanya karena takut gak kuat. Tuh kaan...jadi pemberian delman itu sepertinya sia-sia karena akhirnya gak dimanfaatkan.


Eh tulisan ini bukan bermaksud mengkritik acara reality show tsb, acaranya bagus kok bikin kita (orang-orang yg hidup berkecukupan) buat melek sama kehidupan sekitar dan nasib orang lain yg susah. Tapi ini cuma mempertanyakan itu, bener gak sih bantuan yg diberikan itu bener-bener yg mereka BUTUHKAN?


Lebih luas lagi, ini bukan sekedar tentang acara reality show tapi tentang kehidupan kita sehari-hari. Tentang memberi kpd orang lain. Kadang kalo liat orang lain lagi susah jiwa sosial kita muncul. Kita suka pengen bantu ini itu, akhirnya kita ngasih ini itu. Dan udahnya langsung aja berasa jumawa, merasa udah berjasa buat orang lain. Pdhl apa iya?? Jangan-jangan yg kita kasih itu sifatnya cuma sesaat. Memberi itu bagus, tapi lbh bagus lagi kalo memberi yg bener-bener bermanfaat kan? :(|)

Labels:

popsicle @ 7:23 AM | 0 comments
------------